Wednesday, May 2, 2012

Konsumen RI Lebih Suka Nabung Ketimbang Liburan

Nielsen mencatat konsumen di Indonesia lebih memilih untuk
menabung, apabila memiliki uang lebih
yakni 68 persen. Selain itu, 29 persen
akan menggunakan uang lebih untuk
berlibur. "Sebanyak 29 persen untuk membayar
tagihan atau pinjaman, 28 persen
membeli produk teknologi terbaru, dan
27 persen untuk berinvestasi," kata kata
Managing Director Nielsen Catherine
Eddy dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (2/5/2012). Sementara di kawasan Asia Selatan, 65
persen konsumennya akan menabung
uang lebihnya, 31 persen berlibur, 28
persen membeli peralatan teknologi
baru, 27 persen membayar tagihan, dan
25 persen membeli baju baru. Dia menambahkan, empat persen
konsumen Indonesia mengaku tidak
mempunyai uang lebih. Jumlah itu lebih
kecil dibandingkan Asia Selatan yang
sebesar enam persen. "Walaupun konsumen tergolong
optimistis akan keadaan keuangan
pribadi mereka selama empat kuartal
terakhir. Mereka juga sangat berhati-hati
akan pengeluaran mereka. Dengan
meningkatnya keadaan perekonomian global dan regional, konsumen merasa
lebih percaya diri dengan keadaan
keuangan mereka," jelasnya. Dia menjelaskan, 23 persen konsumen
Indonesia menyatakan kondisi ekonomi
merupakan kekhawatiran terbesar,
sedangkan 14 persen menyatakan
ekonomi merupakan kekhawatiran
kedua terbesar. "Selain ekonomi, konsumen Indonesia
juga khawatir akan keseimbangan
pekerjaan atau hidup 17 persen,
kesejahteraan orang tua 15 persen dan
kesehatan enam persen," ucapnya. Menurutnya, ekonomi terus menjadi
kekhawatiran utama bagi konsumen
Indonesia terutama dengan
kemungkinan naiknya harga bahan
bakar yang akan mendorong naiknya
harga barang. Ketika harga barang mahal, maka
konsumen akan merubah pola belanja
yakni membeli produk dalam kemasan
dan kategori berbeda dari sebelumnya.
Catherine mencontohkan, konsumen
akan membeli produk dalam kemasan sachet. Namun, kata dia, ada beberapa
konsumen terutama dari kelas
menengah keatas akan membeli produk
yang sama dengan merek yang sama
seperti susu anak, karena mereka tidak
ingin mengambil risiko. Sedangkan untuk produk tertentu seperti kopi dan minyak
goreng, konsumen akan beralih dari
merek terkenal ke merek yang biasa.
(Sandra Karina/Koran SI) (ade)

Tuesday, April 24, 2012